Selamat Datang di Website
Gereja Katolik St Ignatius Magelang
   
KEVIKEPAN KEDU : 65 TAHUN TARAKANITA 
Thursday, June 28, 2012, 18:48 - Inspirasi Posted by Administrator


Lebih 4000 penonton hadir memadati gedung pertemuan Tribakti Magelang (Kamis , 21 Juni 2012). Malam itu siswa-siswi SD,SMP,SMA,SMKK yang bernaung di bawah Yayasan Tarakanita Magelang menggelar pertunjukan seni yang bertajuk ‘Serviam In Caritate’ – Pengabdian Cinta. Drama kolosal yang melibatkan 600 siswa-siswi ini dipersembahkan dalam memperingati Jubelium 175 tahun Kongregasi Suster – suster Carolus Borromeus, pendiri lembaga pendidikan Tarakanita dan 60 tahun berdirinya Yayasan Tarakanita.



Pertunjukan seni gerak, lagu dan drama yang mengisahkan sejarah awal mula berkaryanya kongregasi suster-suster Carolus Borromeus di Indonesia dan berdirinya sekolah Tarakanita ini disutradarai oleh Bondan Nusantara, sedangkan musiknya digarap oleh Adek Wijayanto, guru pengasuh pendidikan ekstra kurikuler musik SMA Tarakanita Magelang. Dalam sambutannya suster Avriani Widyastuti, CB, Ketua Yayasan Tarakanita Magelang mengatakan ; ‘Pertunjukan ini merupakan ekspresi para siswa-siswi Tarakanita dalam menuangkan minat-bakatnya yang selama ini diikuti melalui pelajaran ekstra kurikuler, khususnya bidang seni’



Dalam tata lampu yang apik dan komposisi musik yang dinamis ‘Serviam In Caritate’ tampil menawan malam itu. Alur cerita yang diawali dengan komposisi musik lembut, mengalir mengiringi lagu dan tari ‘Satu hati Satu Semangat’ yang bercerita tentang karya perutusan dan peran sekolah Tarakanita bagi bangsa Indonesia, khususnya dalam ikut mendidik manusia muda menjadi cerdas dan berbela rasa. Pada bagian lain kolaborasi orkestra yang memadukan berbagai alat musik, piano, biola, drum, perkusi dan gamelan menyajikan lagu – lagu ; ‘Hatiku Bernyala’, ‘Masih Ada Bintang’, ‘Yo Ayo Bangkit’, Dunia Membutuhkan Kita’, dan ‘Pemilik Masa depan’. Pagelaran yang berlangsung 1,5 jam ini merangkai gerak tari dan drama musikal sejarah lahirnya lembaga pendidikan Tarakanita dan peran sertanya dalam kehidupan masyarakat di Magelang.



Dalam karya mengembangkan pendidikan di Indonesia, yayasan Tarakanita mengelola di 7 wilayah, yang salah satunya adalah wilayah Jawa Tengah dengan sekolah TK, SD, SMP, SMA Tarakanita dan SMK Pius Magelang, SMP Pendowo Ngablak Kabupaten Magelang dan TK, SD, SMP Tarakanita Solo baru.

E.Yusuf Kusuma (Ketua Komisi Komunikasi Sosial Kevikepan Kedu)

KEVIKEPAN KEDU : SMA VAN LITH RESMIKAN MONUMEN 4 PAHLAWAN NASIONAL 
Thursday, June 28, 2012, 18:29 - Inspirasi Posted by Administrator


Peresmian monumen empat Pahlawan Nasional ; Yos Sudarso, Mgr. Soegiya Pranoto, IJ. Kasimo dan C. Simanjuntak yang mengapit patung Romo Van Lith (Sabtu, 26 Mei 2012) di pelataran sekolah SMA PL. Van Lith Muntilan, Kabupaten Magelang menandai dibukanya perayaan memperingati Hari Van Lith tahun 2012. Perayaan yang diawali dengan Misa Syukur yang dipimpin oleh Romo M. Nurwidipranoto Pr, Direktur Museum Misi Muntilan dimeriahkan paduan suara dan iringan gamelan oleh siswa-siswi Van Lith



Dalam homilinya (kotbah), Romo Nurwidi mengatakan, bahwa dalam kalender Gereja bertepatan dengan hari raya Pentakosta, turunnya Roh Allah, Roh Kebenaran yang membimbing kita dan tentu juga membimbing keempat pahlawan nasional yang dipatungkan ini. Mereka lewat perjuangannya mewartakan kebenaran sehingga segala tindakannya juga selalu dipenuhi oleh Roh Allah sendiri. Oleh karena itu mereka sungguh memiliki iman yang mendalam dan tangguh.



Sementara itu Bruder Alb. Suwarto FIC, kepala sekolah SMA Van Lith menerangkan mengenai latar belakang dibagunnya monumen pahlawan Nasional, yang adalah juga alumni sekolah Van Lith dimaksudkan untuk memberikan inspirasi kepada siswa-siswi tentang pentingnya pendidikan rohani dan nasionalisme. Dalam penjelasannya kepada lebih 1000 umat yang terdiri dari para siswa dan tamu undangan, bruder Warto menjelaskan, sebagaimana semboyan Mgr. Soegiya Pranata, Uskup pertama Indonesia ; 100 persen Katolik, 100 persen Indonesia menjadi landasan dinamika dan diharapkan menjadi inspirasi para siswa untuk terlibat dalam membangun bangsa. Sedangkan Bruder Frans Sugi FIC, Kepala yayasan Van Lith dalam sambutannya menambahkan harapannya, kelak dipelataran ini akan dipenuhi oleh monumen – monumen yang lain menyusul keempat monumen yang baru saja diresmikan.



Peresmian yang dilakukan dengan memerciki monumen berupa patung – patung keempat pahlawan Nasional itu dengan air yang telah diberkati melalui Romo Nurwidi membuka serangkaian acara peringatan Hari Van Lith yakni, pentas seni teater dan sendratari oleh para siswa yang dilanjutkan dengan pagelaran wayang kulit bersama dalang Bruder Frans dan Romo Tri Wijantoro. Sebelum acara pentas dimulai, Bruder Warto menyampaikan informasi mengenai kelulusan SMA Van Liht tahun ajaran 2011 – 2012 yang 100 persen dari 180 siswa-siswi.


E. Yusuf Kusuma ( Ketua Komisi Komunikasi Sosial Kevikepan Kedu )

KEVIKEPAN KEDU : Seabad Seminari Mertoyudan 
Thursday, June 28, 2012, 17:53 - Inspirasi Posted by Administrator


Ada begitu banyak keindahan dibalik perbedaan yang pantas disyukuri. Momentum peringatan 100 tahun bukan sekedar hingar bingar pertunjukan tanpa makna, namun bagi Seminari St. Petrus Canisius Mertoyudan, Kabupaten Magelang adalah sebuah refleksi akan perutusan. Puisi ‘Malam Surgawi’ karya Atika siswi kelas 3 SMP Negeri 2 Salam, Kabupaten Magelang dibacakan berurutan dengan puisi "Penari di Tanah Cinta" karya penyair Dorothea Rosa Herliany membuka pagelaran pentas ‘Sekaten Seni’ Sabtu siang ( 2 Juni 20112 ), setelah paginya diselenggarakan Misa Syukur yang dipersembahkan secara konselebran oleh Uskup Agung Semarang, Monsinyur Johannes Pujasumarta bersama Kardinal Julius Darmoatmaja dan 8 Uskup Indonesia, diantaranya Monsinyur Ignatius Suharyo Uskup Agung Jakarta, Monsinyur Blasius Pujaraharja Uskup Kalimantan Barat, Monsinyur Nicolaus Adi Seputra Uskup Agung Merauke, Monsinyur A.M. Sutrisnaatmaka Uskup Palangkaraya, Monsinyur Harjosusanto Uskup Tanjung Selor, Monsinyur Pandoyoputro Uskup Malang, dan Uskup Purwokerto Monsinyur J Sunarka.



Pentas yang menjadi bagian dari perayaan syukur Seabad Seminari ini bertajuk ’Ensiklopedia Agrobudaya’ melibatkan 350 petani yang tinggal di lereng-lereng 5 gunung di Kabupaten Magelang ; Merapi, Merbabu, Menoreh, Andong dan Sumbing. Pentas seni siang itu adalah eksekusi dari serangkaian panjang pentas-pentas sebelumnya. Lewat malam ‘Mawas Diri’, gerakan para penari dari komunitas seni ‘Tjipta Budaya’ Tutup Ngisor, Dukun, ‘Sastra Surgawi’ performa baca puisi dan mantera gunung, atau gerak joget erotis para penari ‘lengger’ dari dusun Krandegan, Sukomakmur Kajoran, lereng gunung Sumbing hingga pesan dari pentas wayang orang dalam lakon ‘Arjunawiwaha’ merajut benang merah perutusan bagi keutuhan semesta alam karya agung Sang Maha Pencipta. Ada perjumpaan, ada pergumulan, ada keraguan, ada kekurangan, ada kelebihan, dan ada jutaan perbedaan lebur jadi satu mengkristal dalam spirit berbagi. ‘Perbedaan’, entah berapa kali kata itu terucap sepanjang proses pementasan ‘Ensiklopedia Agrobudaya’ keluar dari Sutanto, budayawan Mendut. ’Ensiklopedia Agrobudaya’ menawarkan nilai-nilai perbedaan ditengah arus besar jaman yang semakin individualistis sekaligus menjadi catatan penting pejiarahan Seminari melintas batas budaya, dari budaya tradisional ruwatan situs-situs prasasti kuno hingga budaya paling mutakir serba instan digital.



Semerbak bakaran dupa kayu cendana diseputar altar Tahta Suci yang dibangun megah tepat di depan Kapel Seminari, atau juga bau kemenyan yang berkelindan dan bunga-bunga mawar yang ditaburkan diarena pentas seni membawa suasana romantis magis diantara sekitar 3500 umat yang hadir. Lagu ‘Panis angelicus’ karya Cesar Franck yang mengalun lewat paduan suara Seminaris ditengah ritual Perayaan Misa, atau tembang-tembang mantera sepanjang sajian ‘Ritus Lima Gunung’, melahirkan paling tidak spirit untuk berbagi kepada siapa saja yang hadir saat itu tanpa harus berkata-kata. Totalitas seni para penari dan suasana magis semakin tercipta indah, merasuk hingga bukan saja para pelaku peran yang ‘kesurupan’, namun sekaligus menghipnotis ruang – ruang pikiran dan batin para penonton, pewarta, fotografer hingga sulit untuk bisa di nalar menjadi lebur dalam ritual bersama yang sakral.



‘Ensiklopedia Agrobudaya’ mewarnai perjalanan para seminaris, calon imam Katolik dalam memahami proses pencarian jatidiri sebagai pribadi yang utuh dalam perutusan Gereja yang hidup ditengah masyarakat. Ruang pertanyaan lalu menjadi refleksi teologis tentang rangkaian seabad. Jangan – jangan dibalik ‘kesurupan’ yang sejauh ini dimengerti sebagai karasukan setan dalam tarian tradisional, disana ada tersimpan keyakinan, bahwa Allah yang esa dan transenden memenuhi relung jiwa, hati dan pikiran saat itu hingga tercipta suasana sakral bahasa roh. Bukankah para rasul juga dikira kesurupan ketika Roh Kudus Allah turun ke atas mereka ? Hari Raya Pentakosta.



‘Duc in Altum’ tulisan yang dipasang di tengah atas altar Perayaan Misa siang itu adalah motto yang dipilih oleh Mgr. Yohanes Pujasumarta ketika ditahbiskan menjadi Uskup di Keuskupan Bandung pada tanggal 16 Juli 2008. ‘Bertolaklah ke tempat yang dalam’ merupakan sabda Tuhan kepada murid – murid-Nya di tepi danau Galilea sekitar 2000 tahun yang lalu. Jika motto itu dipilih sebagai tema Perayaan Syukur Seabad Seminari hari itu, maka tampaknya Monsinyur Pujo mengajak untuk menemukan tempat yang dalam pada setiap kali masuk kedalam misteri persatuan dengan Sang Pencipta Alam Semesta. Dari tempat yang dalam itu dapat memandang Sang Seniman Sejati, Allah yang bersemayan di tempat yang Maha Tinggi, sekaligus ditenggelamkan dalam proses pencarian jatidiri mencari makna dan menjalankan nilai – nilai kehidupan yang benar dan baik, lebih dalam, lebih mulia dan lebih indah.

E. Yusuf Kusuma – Ketua Komisi Komunikasi Sosial Kevikepan Kedu.

Makna Pantang dan Puasa 
Wednesday, February 22, 2012, 15:48 - Inspirasi Posted by Administrator


Hari ini, umat Katolik seluruh dunia memulai retret agung. Retret agung itu lebih dikenal dengan nama masa Prapaskah, yaitu masa persiapan untuk menyambut Misteri Paskah. Masa persiapan itu berjalan selama 40 hari. Di mulai dari hari Rabu Abu sampai dengan Jumat Agung. Selama masa retret agung itu, umat Katolik diajak untuk bermati raga melakukan olah rohani dengan aksi pantang dan puasa serta aksi puasa pembangunan sebagai bentuk nyatanya.

Pertama, olah rohani dalam bentuk aksi pantang dan puasa. Dalam hukum Gereja disebutkan demikian: “Pantang makan daging atau makanan lain menurut ketentuan Konferensi para Uskup hendaknya dilakukan setiap hari Jumat sepanjang tahun, kecuali hari Jumat itu kebetulan jatuh pada salah satu hari yang terhitung hari raya; sedangkan pantang dan puasa hendaknya dilakukan pada hari Rabu Abu dan pada hari Jumat Agung, memperingati Sengsara dan Wafat Tuhan Kita Yesus Kristus (Kan. 1521).” Menurut hukum ini, hari Jumat menjadi hari pantang. Selama masa Prapaskah, hari pantang dan puasa adalah Rabu Abu dan Jumat Agung.

Rabu Abu menjadi awal masa pantang dan puasa dalam masa Prapaskah. Pada Pada hari Rabu Abu, umat Katolik datang ke Gereja dan diberi tanda salib dari abu sebagai simbol upacara ini pada dahinya. Simbol ini mengingatkan umat akan ritual Israel pada jaman dahulu di mana seseorang menabur abu di atas kepalanya atau di seluruh tubuhnya sebagai tanda kesedihan, penyesalan dan pertobatan.

Aturan pantang dan puasa dalam Gereja Katolik juga demikian ringan. Dalam pantang, umat Katolik diajak untuk melawan segala bentuk kesenangan diri. Misalnya seseorang yang sangat menikmati rokok, selama masa Prapaskah ia diajak untuk berpantang rokok. Setiap orang yang berumur di atas 14 tahun memiliki kewajiban untuk melakukan pantang. Sedangkan aturan puasa adalah makan kenyang sekali selama sehari. Setiap orang yang berumur antara 18-60 tahun memiliki kewajiban untuk melakukan puasa.

Jika kita melihat aturan mengenai pantang dan puasa, amat mudah kan? Kelihatannya sangat mudah, tetapi jika kita berani bertekun atasnya akan terasa betapa tidak mudah melakukan itu. Hakekat pantang dan puasa dalam Gereja Katolik bukan terletak pada menahan lapar atau haus. Hakekat pantang dan puasa adalah melawan diri sendiri. Dengan demikian, persoalannya bukan soal ritual pantang dan puasanya melainkan terletak pada bagaimana kita menghayati makna pantang dan puasa itu. Jika kita hanya menghayati pantang dan puasa sebatas ritual, maka kita akan semkian ingin melakukan hal-hal yang akan menjauhkan kita dari keselamatan. Pantang dan puasa akan semakin bermakna jika kita mampu memaknai pantang dan puasa sebagai sebuah sarana penyelamatan. Penilaian kita atas pantang dan puasa itulah yang akan mempengaruhi perbuatan kita selama masa retret agung ini.

Pantang dan puasa dari segala jenis daging tidaklah berarti banyak ketika kita membiarkan telinga kita mendengarkan hal-hal yang tidak benar. Ketika kita berpantang dan berpuasa, berpantang dan berpuasalah dengan telinga juga. Berpantang dan berpuasalah dengan mulutmu, dengan tangan dan kakimu, dan dengan seluruh tubuhmu. Apalah artinya tidak makan dan minum jika kita membiarkan mulut kita mengeluarkan kata-kata kotor, makian, gosip, dan menyebarkan kebohongan. Apa artinya kita tidak makan daging atau makanan yang serba enak, tetapi kita menggigit dan memangsa sesama kita?
Kedua, Aksi Puasa Pembangunan. Selain melakukan aksi pantang dan puasa, kita juga diajak sampai kepada gerakan nyata. Gerakan itu disebut sebagai Aksi Puasa Pembangunan (APP). APP ini menyangkut dua aspek, yaitu aspek ke dalam dan keluar. Aspek ke dalam ditandai dengan usaha untuk semakin memperdalam iman dengan aneka bentuk pertemuan dan sarasehan. Sedangkan aspek keluar merupakan tindakan nyata sebagai bentuk pertobatan.

Pada bagian sebelumnya saya menyinggung bahwa aturan pantang dan puasa itu demikian mudah. Tetapi amat sulit untuk dilakukan. Saya akan memberikan contoh di sini. Ketika saya pantang merokok, maka selama masa Prapaskah uang untuk beli rokok itu akan saya masukkan dalam kotak APP. Andaikan sehari saya menghabiskan satu bungkus rokok, maka berapa yang akan saya masukkan ke dalam kotak APP? Jika saya melakukannya setiap Jumat, berarti saya memasukkan uang sebesar 10.000 x 7 (Jumat) = 70.000,- Jika saya melakukannya selama masa Prapaskah, berarti saya akan memasukkan uang sebesar 10.000 x 40 (hari) = 400.000.

Contoh lain dalam hal puasa. Aturan puasa adalah makan kenyang sekali. Dalam sehari kita makan tiga kali. Dalam keluarga ada 3 orang yang melakukan puasa. Katakanlah biaya untuk sekali makan Rp. 10.000,- Berarti pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung kita memasukkan uang sebesar (3 x 2 x 10.000) x 2 (Rabu dan Jumat) = 120.000. Banyak juga ya? Apakah kita mau mengeluarkan uang segitu banyak dan dimasukkan ke kotak APP. Itu baru untuk puasa, belum untuk pantangnya.

Uang yang terkumpul selama masa Prapaskah itu akan digunakan untuk melakukan karya-karya karitatif, terutama untuk membantu mereka yang lemah, miskin, tersingkir, dan difable. Inilah wujud nyata dari gerakan pantang dan puasa.

Hakekat pantang dan puasa dalam Gereja Katolik bukan terletak pada ritualnya yang harus begini atau begitu. Hakekat pantang dan puasa adalah “koyakkanlah hatimu, bukan pakaianmu!” Nilai pantang dan puasa bukan terletak pada ritual karena itu hanyalah pakaian. Yang terpenting adalah bagaimana kita melawan diri sendiri dan masuk dalam suasana pertobatan yang terus menerus. Jika kita melakukan pantang dan puasa dengan membatasi pada tidak makan ini atau itu, maka sebenarnya kita telah merendahkan makna dari pantang dan puasa itu sendiri.


| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | Next> Last>>

 
    LoginAdmin        @copyright 2009 Gereja Katolik St Ignatius Magelang