Selamat Datang di Website
Gereja Katolik St Ignatius Magelang
   
KATHARINA KEMIRIKEREP 
Sunday, September 5, 2010, 23:25 - Profile Lingkungan Posted by Administrator
Berbagi dan berkomunikasi kiranya menjadi semangat umat Lingkungan Katharina Kemirikerep dalam hidup bersama sebagai warga gereja dan sekaligus warga masyarakat. Mereka hidup di tengah pemukiman padat dan berkiprah menjadi pengikut Kristus yang mau berbagi dan membangun komunikasi, serta hidup berbaur dengan para tetangga. Kiprah mereka untuk membawa berkat bagi banyak orang.

Demografi Lingkungan
Data tahun 2010 menunjukkan bahwa umat Lingkungan Katharina Kemirikerep berjumlah 36 kepala keluarga dengan 121 jiwa. Sebanyak 26 KK masih lengkap, satu duda, dan sembilan janda. Berdasarkan status perkawinan, sebanyak 21 pasang menikah secara sakramen gerejawi, sepasang menikah catatan sipil, dan 14 pasang tidak jelas status pernikahannya. Berdasarkan klasifikasi usia, umat berumur 1-7 tahun sebanyak tujuh orang (L:4, P:3), 8-12 tahun sebanyak delapan orang (L:7, P: 1), 13-35 tahun sebanyak 37 orang (L:20, P:17), 35-65 tahun sebanyak 50 orang (L:24, P:26), di atas 65 tahun sebanyak 18 orang (L:5, P:13).

Umat setempat didominasi usia produktif yaitu berusia 13-35 tahun sebanyak 37 orang dan 35-65 tahun sebanyak 50 orang.

Berdasarkan jenis kelamin, umat laki-laki 60 orang dan perempuan 61 orang.
Berdasarkan asal-usul suku bangsa, sebanyak 80 orang atau 66,1 persen keturunan Tionghoa, dan 41 orang atau 33,9 persen pribumi (Jawa dan Flores).
Berdasarkan klasifikasi pekerjaan, umat sebagai karyawan swasta 22 orang, pegawai negeri sipil empat orang, wiraswasta 15 orang, pelajar 28 orang, mahasiswa 11 orang, balita lima orang, dan profesi lainnya 36 orang. Mereka yang masuk kategori profesi lainnya itu tidak jelas, namun kemungkinan bekerja serabutan dan ibu rumah tangga.
Umat setempat secara ekonomi umumnya masuk kategori kelas ekonomi menengah, sedangkan dua KK termasuk tergolong ekonomi lemah, beberapa lainnya masuk kategori kaya. Beberapa di antara mereka menjadi pengurus Forum Komunikasi Pengusaha dan Profesional Katolik Magelang.

Relatif banyak jumlah mahasiswa dan pelajar berasal dari lingkungan itu menjadi potensi pengembangan kehidupan gereja lingkungan setempat. Berdasarkan tingkat pendidikan, empat orang TK (L:0, P:4), 19 SD (L;9, P:10), 12 SMP (L:3, P:9), 33 SMA (L:19, P:14), 30 sarjana (L:17, P: 13). Sebanyak 23 orang tidak mencatatkan tingkat pendidikan terakhirnya, namun secara umum umat setempat berpendidikan dan mempunyai kemampuan intelektual secara memadai.


Sejarah Perkembangan Umat Lingkungan

Lingkungan Katharina Kemirikerep, salah satu lingkungan di Wilayah Katharina. Pada masa lalu pembentukan wilayah di Paroki Ignatius Kota Magelang berdasarkan atas pembagian wilayah kelurahan di Kota Magelang. Pemberian nama pelindung atau orang kudus sekitar 1980-an, pada masa paroki itu dipimpin oleh Romo FX Wiyono Pr.
Pemilihan nama santo dan santa pelindung wilayah oleh pihak paroki berdasarkan kriteria kesamaan huruf pertama nama pelindung dengan huruf pertama nama wilayah supaya umat mudah mengingatnya. Nama Wilayah Katharina karena umat setempat tinggal di Kelurahan Kemirirejo, Kecamatan Magelang Tengah.

Pemberian nama pelindung lingkungan memberi warna rohani atau spiritual atas umat lingkungan itu dan kekhasan kristiani daerah yang membedakan dengan nama wilayah pemerintahan. Namun, karena inisiatif pemberian nama pelindung itu berasal dari hirarki, membuat umat setempat tidak mengenal secara baik atas tokoh gereja yang menjadi pelindung lingkungannya. Padahal nama pelindung lingkungan setempat, Santa Katharina, itu menjadi dasar mereka untuk membangun spiritualitas.
Pengurus dan umat lingkungan setempat menyadari keterbatasan pengetahuannya tentang biografi Santa Katharina.

Wilayah Kemirirejo pada 1983 adalah salah satu di antara tujuh wilayah kegembalaan para romo Paroki Santo Ignatius Kota Magelang. Berdasarkan reksa pastoral setempat, wilayah itu dipandang terlalu luas dengan jumlah umat yang semakin berkembang. Wilayah itu kemudian dibagi menjadi dua lingkungan yakni Lingkungan Katharina I dan Lingkungan Katharina II. Pemberian nama Lingkungan Katharina Semplon sejak 1989. Wilayah Katharina dimekarkan satu lingkungan lagi pada 1991 menjadi Lingkungan Katharina III. Nama lingkungan pada 2010 kemudian diubah menjadi Lingkungan Katharina Bayeman, Lingkungan Katharina Semplon, dan Lingkungan Katharina Kemirikerep. Lingkungan Katharina Kemirikerep berbatasan degan Lingkungan Katharina Semplon (utara), Lingkungan Robertus (timur), Lingkungan Maria (selatan), dan Lingkungan Katharina Bayeman (barat).

Tokoh umat yang pernah menjabat sebagai Ketua Lingkungan Katharina Kemirikerep adalah:

1. Koh Ping
2. Liem Swe Ping
3. Laurentius Ridwan
4. Yohanes Slamet Gunarso

Mereka adalah warga asli setempat yang memimpin pengembangan iman umat dan membantu karya pastoral Romo Paroki terutama di lingkungan.


Kelengkapan Lingkungan

Umat setempat terlibat aktif untuk mengurus lingkungannya terutama mereka yang masuk jajaran kepengurusan lingkungan. Pengurus lingkungan setempat periode 2010-2012 adalah:


Ketua : Yohanes Slamet Gunarso
Sekretaris : Antonius Sulistianto
Bendahara : Fransiska Irawati
Tim Pewartaan/Katekis : Lusia Linawati Gunarso
Tim Koor : Agustinus Handoyo

Lingkungan Katharina Kemirikerep juga memiliki dua pemazmur dan seorang katekis untuk mendukung berbagai kegiatan liturgi. Lingkungan itu juga telah memiliki peralatan misa.

Dinamika Pelayanan Umat
Umat Lingkungan Kemirikerep umumnya berusia produktif dan relatif banyak yang berpendidikan tinggi. Para ibu mendominasi kehadiran pada setiap pertemuan lingknugan. Sekitar 70 persen ibu berpartisipasi dalam pertemuan lingkungan, 20 persen bapak, dan 10 persen anak-anak.

Beberapa kegiatan pembinaan iman antara lain bina umat untuk persiapan calon baptis, penerimaan komuni pertama, sakramen krisma, pendalaman iman tematis (APP, Adven, dan BKSN), ibadat, dan misa. Partisipasi umat dalam kegiatan lingkungan rata-rata di bawah 60 persen, namun kebutuhan dana cukup lancar karena umumnya umat rela memberikan sumbangan bagi kepentingan lingkungan. Pengurus dan Romo Paroki menjadi tumpuan harapan umat untuk memperhatikan keluarga-keluarga Katolik terutama yang sedang menghadapi masalah supaya mereka tetap bertekun dalam iman Katolik.


Hubungan Gereja Lingkungan Dengan Masyarakat
Umat Lingkungan Kemirikerep hidup bersama dengan masyarakat umum yang sehari-hari memiliki aktivitas tinggi. Relasi umat dengan masyarakat berjalan secara harmonis. Keakraban dan semangat kekeluargaan umat dengan masyarakat umum terlihat saat hari raya keagamaan. Mereka juga menggelar kegiatan bersama antara lain kerja bakti, pembagian sembako pada Natal dan Lebaran, pertemuan PKK, Dasawisma. Beberapa umat dipercaya menjadi Ketua Rukun Tetangga, dan umat lain menjadi orang tua asuh dari beberapa anak keluarga tak mampu.

KATHARINA BAYEMAN 
Sunday, September 5, 2010, 23:19 - Profile Lingkungan Posted by Administrator
Umat lingkungan Katharina Bayeman berusaha mewujudkan diri sebagai paguyuban yang terus berbenah untuk berubah agar menghasilkan buah melalui komunikasi antar mereka. Mereka mengakui bahwa proses menuju perubahan itu tidak sertamerta mudah dipahami umat. Ketegangan kecil antarkepentingan ikut mewarnai dinamika mereka. Mereka seakan tidak putus asa menjembatani pemecahan berbagai persoalan melalui komuniasi baik antarpengurus maupun pengurus dengan umat. Nyatanya komunikasi mereka terus bergulir sejak lingkungan itu berdiri.

Demografi

Pendataan umat Katharina Bayeman pada 2010 menunjukkan bahwa lingkungan itu terdiri atas 37 kepala keluarga dengan 117 jiwa. Mereka terdiri atas 28 KK masih lengkap, empat KK duda, dan lima KK janda. Berdasarkan status perkawinan, sebanyak 25 pasang suami-isteri menikah secara sakramen gerejawi, empat pasang menikah secara catatn sipil, satu pasang menikah di kantor urusan agama (KUA), dan tujuh pasang tidak jelas status pernikahannya.
Berdasarkan klasifikasi usia, 1-7 tahun sebanyak satu orang (L:0, P:1), 8-12 tahun lima orang (L(2, P:3), 13-35 tahun 43 orang (L:22, P:21), 35-65 tahun 10 orang (L:2, P:8). Berdasarkan klasifikasi usia itu umat setempat didominasi orang tua usia produktif. Berdasarkan jenis kelamin, umat perempuan 65 orang, sedangkan laki-laki 52 orang. Berdasarkan asal-usul suku bangsa, sebanyak 29 orang keturunan
Tionghoa dan 88 orang pribumi (Jawa, Flores, Bali).

Dua di antara 117 umat setempat merupakan warga asli Kota Magelang, sedangkan lainnya pendatang. Situasi itu disadari oleh pengurus lingkungan sebagai kesempatan untuk hidup beradaptasi dengan sesama. Pengurus juga menemukan umat yang kurang bergaul dengan lainnya dan bersikap tertutup yang kemungkinan karena sibuk dengan pekerjaan mereka.

Berdasarkan pekerjaan atau profesi terlihat bahwa umat setempat memiliki mata pencaharian yang beragam. Sebanyak 21 orang bekerja sebagai karyawan swasta, 10 pegawai negeri sipil, 20 wiraswasta, 20 pelajar, tujuh mahasiswa, satu balita, dan 20 orang profesi lainnya yang terdiri atas tujuh laki-laki dan 18 perempuan. Kategori lain dianggap kurang jelas, entah sebagai pekerja serabutan atau ibu rumah tangga.
Komposisi mata pencaharian mereka yang beragam itu berpengaruh terhadap tingkat kesejahteraan dan status sosial-ekonomi umat.

Pengurus lingkungan juga mengklasifikasikan mereka dalam tiga kelompok yakni 10 KK kategori umat kaya atau sejahtera, 25 KK kategori menengah, dan dua KK kategori prasejahtera atau miskin.
Berdasarkan tingkat pendidikan, dua orang pra-TK (L:1, P:1), tidak ada umat TK, 14 orang SD (L:4, P:10), sembilan orang SMP (L:6, P:3), 37 orang SMA (L:14, P:23), 41 orang sarjana (L:24, P:17), dan 14 orang belum diketahui tingkat pendidikan terakhirnya karena tidak mencatatkan di buku KK. Secara akademis, umat setempat sebagai umat berpendidikan tinggi. Mereka yang memiliki tingkat kemampuan intelektual relatif tinggi terdiri atas 41 orang sarjana dan 37 orang SMA.


Sejarah dan Perkembangan Umat

Lingkungan Katharina Bayeman adalah salah satu lingkungan di Wilayah Katharina. Umat setempat, Leo Priharsanto dan Romanus Puji Raharjo memberikan kesaksian bahwa pembentukan wilayah setempat berdasarkan pembagian wilayah kelurahan di Kota Magelang.

Pemberian nama pelindung orang kudus (santo dan santa) mulai pada masa gereja Paroki Santo Ignatius Kota Magelang dipimpin Romo FX Wiyono Pr pada era 1980-an. Pemberian nama pelindung itu ditentukan oleh pihak paroki sesuai kriteria huruf pertama nama santo dan santa dan huruf pertama nama wilayah agar memudahkan dalam mengingat. Nama Katharina diberikan kepada wilayah itu karena umat setempat berada di Kelurahan Kemirirejo.

Kebijakan pemberian nama orang kudus sebagai pelindung lingkungan memberi warna rohani dan ciri khas kristiani atas lingkungan itu serta membedakan dengan nama wilayah untuk pemerintahan. Namun, proses pemberian nama pelindung yang inisiatif pihak paroki itu membuat sebagian besar umat setempat tidak mengenal secara baik sosok orang kudus, Santa Katharina, dan semangat spiritual yang hendak diteladani karena mereka tidak mengerti riwayat Santa Katharina itu.

Hingga 1983, Wilayah Katharina Kemirirejo sebagai salah satu di antara tujuh wilayah di bawah penggembalaan para romo di Paroki Santo Ignatius Kota Magelang. Perkembangan reksa pastoral menunjukkan bahwa wilayah itu terasa terlalu luas dengan jumlah umat yang semakin bertambah. Wilayah Katharina Kemirirejo kemudian dikembangkan menjadi dua lingkungan yakni Katharina I dan Katharina II. Pemberian nama Lingkungan Katharina Bayeman sejak 1989. Pada 1991 Wilayah Katharina dimekarkan satu lingkungan lagi yakni Lingkungan Katharina III, sedangkan pada 2010 wilayah itu terdiri atas Lingkungan Katharina Bayeman, Lingkungan Katharina Semplon, dan Lingkungan Katharina Kemirikerep Lingkungan Katharina Bayeman berada di Kelurahan Kemirirejo, Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang, berbatasan dengan Lingkungan Cornelius (utara), Lingkungan Katharina Kemirikerep (timur), dan lingkungan Yohanes (selatan). Sejumlah tokoh yang dianggap sebagai cikal bakal perkembangan Lingkungan Katharina Bayeman adalah Agustinus Wardoyo, Thomas Wignyo Sumarto, dan Rb. Suhut karena telah berjasa mengembangkan iman umat setempat melalui berbagai kegiatan gereja setempat.

Umat pendatang berasal dari luar kota pun turut andil bagi perkembangan iman umat di lingkungan itu seperti Romanus Puji Raharjo dan Fransiskus Imam Basuki. Umat pendatang semakin menjadi warna penting dinamika lingkungan setempat.
Para Ketua Lingkungan Katharina Bayeman hingga saat ini terdiri atas:

1. Harsono : sejak awal.-1981
2. Romanus Puji Raharjo : 1981 - 1994
3. FX Sugiyarto : 1994-1997
4. Fransiskus Imam Basuki : 1997-2000
5. Sumaryoto : 2000-2003
6. Romanus Puji Raharjo : 2003-2007
7. Romanus Puji Raharjo : 2007-2010
8. Romanus Puji Raharjo : 2010 -


Kelengkapan Lingkungan


Keterlibatan dan kesediaan umat menjadi pengurus lingkungan menopang roda kehidupan paguyuban umat Lingkungan Katharina Bayeman.
Susunan Pengurus Lingkungan Katharina Bayeman Periode 2010-2012 sebagai berikut:

Ketua : Romanus Puji Raharjo
Sekretaris : Bernadetta Yoga Yanti Dwi Darmawati
Bendahara : Ignatia Sri Hastuti
Prodiakon : Leo Priharsanto
Tim Pikel : Bapak dan Ibu FX Bambang Permadi
Tim Pewartaan : Fransiskus Imam Basuki
Tim Koor : Maria Goretti Piranti
Tim Sosial-Ekonomi : Johana Fransiska Aisyah Chaeroni
Tim PIA-PIR : Maria Goretti Piranti dan Maria Anna Sri Handayani
Tim Liturgi : Ignatia Sri Hastuti
Tim Paramenta : Elisabeth Rustriningsih


Lingkungan Katharina Banyeman memiliki seorang katekis atau guru agama terutama untuk membina iman umat dan menyiapkan calon baptis. Sejumlah umat lainnya di lingkungan setempat yang secara khusus bertugas mendukung berbagai kegiatan liturgi antara lain dua misdinar, tiga pemazmur, dan masing-masing satu orang organis dan prodiakon. Dua umat berasal dari lingkungan setempat telah menjadi imam ( Romo A. Adi Wardoyo, Pr. Dan Romo Ponco Sukamat, SJ.) dan seorang Suster dari keluarga Bapak Wardoyo. Hal itu menjadi kebanggaan umat setempat. Mereka melalui berbagai kesempatan secara bersama-sama berdoa untuk semakin subur benih panggilan khusus berasal dari lingkungan setempat.

Kepengurusan periode terakhir ini menyadari bahwa lingkungan setempat belum memiliki relatif banyak barang inventaris. Sejumlah inventaris yang hingga saat ini mereka miliki antara lain buku panduan doa melepas jenazah, peringatan arwah (memule). Pengurus juga menyadari relatif sulit menggerakkan regenerasi kepengurusan karena umat memiliki berbagai alasan terutama kesibukan pekerjaan, banyaknya kaum muda yang studi dan bekerja di luar kota.



Dinamika Pelayanan Umat

Mungkin boleh dikatakan bahwa Lingkungan Katharina Bayeman sebagai "lingkungan kesepuhan". Para ibu mendominasi kehadiran pada setiap pertemuan lingkungan. Kehadiran umat dalam berbagai pertemuan dikelompokan 80 persen ibu, 10 persen bapak, delapan persen anak-anak, dan dua persen muda-mudi Katolik (mudika). Beberapa kegiatan terkait dengan pembinaan iman umat antara lain Sekolah Minggu atau Pendampingan Iman Anak (PIA), ibadah sabda dan misa ujub keluarga, misa program paroki, dan pendalaman iman secara tematis seperti Aksi Puasa Pembangunan (APP), Adven, dan Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN).
Partisipasi umat dalam berbagai kegiatan yang mencapai lebih dari 60 persen, termasuk kategori lebih dari cukup. Dana yang dihimpun dari umat cukup lancar melalui kolekte setiap pertemuan dan 10 persen persembahan gereja.

Pengurus mengakui ada umat yang jarang hadir pada pendalaman iman (APP, Adven, BKSN) tetapi selalu menyempatkan diri hadir saat memule. Sejumlah lainnya menolak rumahny auntuk tempat pertemuan lingkungan dengan alasan terutama kondisi rumah yang sempit. Mereka yang rela sebagai tuan rumah pertemuan lingkungan umumnya karena sudah berusia tua dan tidak kuat untuk berjalan jauh.
Pada saat tertentu, umat berasal dari tiga lingkungan bergabung untuk tugas koor di gereja. Kesulitan yang mereka hadapi menyangkut jadwal latihan koor karena setiap lingkungan terkadang sudah memiliki agenda kegiatan tersendir. Namun demi kepentingan bersama mereka saling menyesuaikan agenda untuk kegiatan latihan koor gabungan Wilayah Katharina.

Mereka juga memiliki program kunjungan kepada umat yang sakit dan tim pelayanan kepada orang sakit. Program khas lingkungan itu secara bergiliran adalah doa rosario setiap malam Jumat pertama dan setiap Sabtu serta Minggu selama bulan Mei dan Oktober.

Hubungan Gereja Lingkungan Dengan Masyarakat

Umat Lingkungan Katharina Bayeman hidup di tengah masyarakat yang plural. Selama ini relasi umat dengan masyarakat setempat terbangun secara baik, beberapa umat dipercaya masyarakat menjabat sebagai ketua rukun tetangga (RT) dan seksi peguyuban urusan kematian tingkat rukun warga (RW). Umat setempat juga secara aktif terlibat dalam kegiatan kemasyarakatan seperti arisan para bapak, kerja bakti, pertemuan malam selapanan.

KATHARINA SEMPLON 
Sunday, September 5, 2010, 23:13 - Profile Lingkungan Posted by Administrator
Umat Lingkungan Katharina Semplon hingga saat ini secara tekun memperjuangkan terwujudnya keterlibatan iman mereka bagi kepentingan sesamanya. Agaknya mereka mengutip pernyataan Santo Yohanes bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati. Mereka mencoba memantapkan kesadaran bahwa iman dan keterlibatan umat sebagai dua hal yang tak dapat dipisahkan. Menjadi orang Katolik dipanggil menjadi garam dan terang di tengah masyarakat. Tidak mudahnya memperjuangkan idealisme iman dan keterlibatan itu disadari oleh umat Lingkungan Katharina Semplon. Tetapi apa yang disadari tidak mudah itu bukan berarti tidak mungkin terwujud.


Demografi Lingkungan
Data Lingkungan Katharina Semplon pada 2010 menunjukkan bahwa umat lingkungan setempat yang berjumlah 29 kepala keluarga dengan 93 jiwa itu terdiri atas 20 KK masih lengkap, dua KK duda, dan tujuh KK janda. Berdasarkan status perkawinan umat tercatat delapan pasang menikah secara sakramen gerejawi, empat pasang secara catatan sipil, dan 17 pasang status pernikahannya tidak jelas.
Berdasarkan klasifikasi usia, umat berumur 1-17 tahun sebanyak dua orang (L:1, P:1), 8-12 tahun tidak ada, 13-35 tahun sebanyak 34 orang (L:24, P:10), 35-65 tahun sebanyak 36 orang (L:17, P:19), usia di atas 65 tahun sebanyak 21 orang (L10, P:11).
Komposisi umat Lingkungan Katharina Semplon relatif seimbang antara muda, dewasa, dan lanjut usia dengan perbandingan 34:36:21.

Berdasarkan jenis kelamin, umat laki-laki sebanyak 52 orang dan perempuan 41 orang. Berdasarkan asal-usul etnis, 73 orang warga keturunan Tionghoa (78,5 persen) dan 20 orang Jawa (21,5 persen). Sebagian besar umat hidup dari usaha dagang dan bisnis. Mereka berpotensi besar menghidupkan kegiatan gereja karena memiliki dana secara cukup, namun mereka menghadapi kesulitan untuk saling berjumpa dalam satu kegiatan bersama.

Berdasarkan klasifikasi pekerjaan, umat yang bekerja sebagai karyawan swasta 22 orang, pegawai negeri sipil em,pa torang, wiraswasta 13 orang, pelajar tujuh orang, mahasiswa delapan orang, dan profesi lainnya 39 orang. Mereka yang berprofesi lain itu antara lain bekerja serabutan dan sebagai ibu rumah tangga.

Menurut tokoh umat setempat Stefanus Aedy Suyanto, secara sosial-ekonomi umat setempat tergolong menengah ke atas, memiliki kemampuan ekonomi yang tinggi.
Berdasarkan tingkat pendidikan, tamat SD tujuh orang (L:2, P:5), SMP 11 orang (L:5, P:6), SMA 28 orang (L:13, P:15), sarjana 24 orang (L:16, P:8). Sebanyak 23 orang tidak mencatatkan diri untuk tingkat pendidikan terakhirnya. Secara akademis, umat setempat umumnya berpendidikan dengan kemampuan intelektual yang memadai karena terdiri atas 24 orang sarjana dan 28 orang tamat SMA.


Sejarah dan Perkembangan Umat
Lingkungan Katharina Semplon adalah salah satu di antara tiga lingkungan di Wilayah Katharina. Pada masa lalu pembentukan wilayah di Paroki Ignatius Kota Magelang berdasarkan atas pembagian wilayah kelurahan di Kota Magelang. Pemberian nama pelindung atau orang kudus sekitar 1980-an, pada masa paroki itu dipimpin oleh Romo FX. Wiyono, Pr.

Pemilihan nama santo dan santa pelindung wilayah oleh pihak paroki berdasarkan kriteria kesamaan huruf pertama nama pelindung dengan huruf pertama nama wilayah supaya umat mudah mengingatnya. Nama Wilayah Katharina karena umat setempat tinggal di Kelurahan Kemirirejo, Kecamatan Magelang Tengah.

Pemberian nama pelindung lingkungan memberi warna rohani atau spiritual atas umat lingkungan itu dan kekhasan kristiani daerah yang membedakan dengan nama wilayah pemerintahan. Namun, karena inisiatif pemberian nama pelindung itu berasal dari hirarki Gerejawi, membuat umat setempat tidak mengenal secara baik atas tokoh gereja yang menjadi pelindung lingkungannya. Padahal nama pelindung lingkungan setempat, Santa Katharina, itu menjadi dasar mereka untuk membangun spiritualitas. Pengurus dan umat lingkungan setempat menyadari keterbatasan pengetahuannya tentang biografi Santa Katharina.

Lingkungan Katharina Semplon berada di Kelurahan Kemirirejo, Kecamatan Magelang Tengah, berbatasan dengan Lingkungan Robertus (timur), Lingkungan Maria (selatan), dan Lingkungan Carolus (barat). Sejumlah pemuka umat yang dianggap ikut mengembangkan Lingkungan Katharina Semplon antara lain E. Budi Santoso, Budi Setyono, Stefanus Aedy Suyanto, Vincentius Kuntjoro Pratikto, dan pengurus lingkungan lainnya.

Daftar ketua lingkungan setempat hingga saat ini adalah:
1. E. Budi Santoso : sejak awal - 1997
2. Stefanus Aedy Suyanto : 1997 - 1999
3. Stefanus Aedy Suyanto : 1999 - 2001
4. Gunawan Yuwono : 2001 - 2003
5. Vincentius Kuntjoro Pratikto : 2003 - 2007
6. Vincentius Kuntjoro Pratikto : 2007 -2010
7. Yoppy Wijaya Gunawan : 2010 -


Kelengkapan Lingkungan

Ketua Lingkungan Katharina Semplon, Yoppy Wijaya Gunawan, hingga saat ini belum belum tersusun pengurus lingkungan secara lengkap untuk periode 2010-2012. Namun lingkungan itu telah memiliki masing-masing seorang organis dan katekis atau guru agama yang mendukung tugas-tugas liturgi terutama bagi lingkungan itu. Pengurus juga menyadari hingga saat ini belum memiliki inventaris lingkungan dan belum memiliki prodiakon.


Dinamika Pelayanan Umat Lingkungan
Komposisi umat Lingkungan Katharina Semplon memperlihatkan keseimbangan antara kalangan pemuda, orang tua, dan lanjut usia. Namun kehadiran umat dalam pertemuan lingkungan didominasi oleh para ibu sebanyak 90 persen dan bapak 10 persen. Sejumlah kegiatan lingkungan setempat antara lain pembinaan umat untuk persiapan calon baptis, penerimaan komuni pertama, sakramen krisma, pendalaman iman tematis (APP, Adven, dan BKSN).

Tingkat partisipasi umat dalam kegiatan lingkungan masih termasuk kategori kurang dari cukup atau di bawah 60 persen. Namun kebutuhan dana untuk kegiatan gereja sangat lancar karena umat secara gembira hati menyumbangkan kemampuan keuangannya.


Hubungan Gereja Lingkungan Dengan Masyarakat
Umat Lingkungan Katharina Semplon setiap hari menjalani kehidupan di tengah kesibukan masyarakat terutama bidang usaha dagang seperti toko, rumah makan, dan pusat perbelanjaan. Relasi umat dengan masyarakat umum cukup baik, selama ini hubungan mereka cukup serasi dan selaras. Aktivitas sebagian besar umat cukup tinggi dalam usaha bisnis atau dagang. Mereka juga mempunyai karyawan yang berasal dari masyarakat setempat dan luar kota.

LINGKUNGAN GREGORIUS KALIKAMBANG 
Thursday, August 26, 2010, 17:23 - Profile Lingkungan Posted by Administrator
Awal keberadaan lingkungan Gregorius Kalikambang dimulai pada tahun 1988. Ini terjadi karena adanya pemekaran dari lingkungan Gregorius Gelangan. Salah satu tokoh umat yang berperan besar di lingkungan Gregorius Kalikambang ini adalah Bapak Stevanus Suharno, seorang jaksa pengadilan negeri Magelang yang juga Ketua Wilayah Gregorius yang pertama. Beliau adalah orang yang menjadi panutan umat di Wilayah Gregorius dan meninggal pada tahun 1992.

Berbenah pelan

Letak lingkungan ini berbatasan dengan ; sebelah utara Paroki St. Maria Fatima, sebelah timur dengan Wilayah Geovani, sebelah selatan lingkungan Paulus, dan sebelah barat lingkungan Margareta. Umat di lingkungan ini ada 27 KK dengan jumlah jiwa 74. Dari data perkawinan terdapat 17 pasang nikah Gereja, 1 pasang nikah beda Gereja. Terdapat juga 7 janda dan 2 duda.

Kegiatan di lingkungan ini dari waktu – ke waktu berjalan rutin dan bersifat melanjutkan yang telah ada. Sehingga relatif jarang muncul program baru, bahkan pertemuan untuk membahas program pun juga belum terlaksana. Partisipasi umat dalam berbagai kegiatan cukup positif dengan prosentase sekitar 80% ibu – ibu, 12% anak – anak, 4% bapak – bapak, dan 4% kaum muda.




| 1 | 2 | 3 | 4 | Next> Last>>

 
    LoginAdmin        @copyright 2009 Gereja Katolik St Ignatius Magelang